Menikmati Kopi Kualitas Eskpor Sambil Menambah Wawasan di Banaran

Menikmati Kopi Kualitas Eskpor Sambil Menambah Wawasan di Banaran

Jeniskopidunia.web.id – Belakangan ini kedai kopi semakin menjamur di Indonesia. Beragam jenis dan kreasi kopi pun semakin banyak bermunculan. Minum kopi pun sudah menjadi bagian dari gaya hidup untuk masyarakat Indonesia.

Dari sekian banyak gerai kopi yang ada, sesuatu yang berbeda coba ditawarkan oleh Banaran Coffee and Art. Gerai kopi yang baru diresmikan pada April 2019 lalu yang dimiliki oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX dan berlokasi di Jalan Bukit Kopi Nomor 9, Bukitsari, Kota Semarang.

Mereka menawarkan produk kopi dan teh berkualitas dengan penyajian terbaik. Melalui Banaran Coffee and Art ini, PTPN IX ingin menghadirkan kopi dan teh yang bercitra rasa tinggi bagi para penikmat dari berbagai kalangan.

Mereka ingin mengangkat ‘value’ kopi dan teh karena PTPN IX mempunyai berbagai varian kopi dan teh dengan mutu serta citra rasa tinggi yang selama ini belum terkelola secara maksimal.

Ini bukan gerai pertama Banaran. Sebelumnya mereka sudah mempunyai Banaran Coffe and Tea di kawasan Bawen sejak 2015 dan kemudian beberapa gerai lainnya. Kalau ditarik lagi ke belakang, mereka sudah mempunyai pabrik kopi sejak 1911.

Produk mereka selama ini adalah untuk dieskpor ke berbagai negara. Namun sekarang juga dapat dinikmati di negeri sendiri melalui dua gerai kopi tersebut.

“Kami menghadirkan kopi dan teh yang merupakan kualitas ekspor. Kopi kita yang selama untuk eskpor, sekarang kita sajikan sendiri dengan kualitas premium. Kita mempunyai kopi Arabica dan Robusta, tapi mayoritas Robusta. Konsumen bebas memilih jenis kopi yang mereka sukai,” terang Aditya Yoga Kusuma ST selaku manager Banaran Coffee and Art.

Baca Juga :Nikmatnya Kopi Pagi di Kawasan Legendaris Jarod Manado

Produk dan Seni

Di tempat tersebut juga menampilkan koleksi barang-barang antik. PTPN IX memang punya banyak aset yang kemudian di seleksi untuk bisa ditampilkan.

“Kita kan sudah punya 11 outlet,. Di sini kita menampilkan sesuatu yang beda. Kita menyajikan yang berkualitas premium, beda dengan tempat lainnya. Kita juga menyediakan jasa roasting.,” tutur Aditya.

“Kita juga punya teh yang berkualitas tinggi. Salah satunya adalah White Tea, ini jarang ditemui di tempat lain. Kita juga memperkenalkan grade tea yang selama ini belum banyak diketahui. Jadi kita mengedukasi produk kopi dan teh untuk semua kalangan,” sambungnya.

Berbeda dengan gerai Banaran lainnya yang lebih fokus sebagai restoran, Banaran Coffee and Art lebih fokus ke pengenalan produk dan segala yang berhubungan dengan seni. Khusus di gerai Banaran Coffee and Tea di Bawen, mereka menyediakan agriwisata kebun kopi.

Gerai tersebut lebih dikenal dengan nama Kampung Kopi Banaran dan kita bisa menikmati kopi sambil memandangi hamparan kebun kopi nan hijau dan luas dengan udara dan lingkungan yang sejuk.

Sementara itu, Banaran Coffe and Art juga fasilitas Co-Working Space baik itu untuk kalangan mahasiswa, pekerja, maupun perusahaan-perusahaan yang tidak atau belum memiliki kantor.

Kandang Kopi Usaha Kecil Yang Berubah Menjadi Besar

Kandang Kopi Usaha Kecil Yang Berubah Menjadi Besar

Jeniskopidunia.web.id – Ide bisnis itu bisa datang dari mana saja, kapan saja, atau dari siapa saja. Bahkan dari nongkrong dan nyeruput kopi, aktivitas yang jamak dianggap mubazir dan buang-buang waktu, serta identik dengan pengangguran.

Seperti Saini Sukijan yang selama kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, justru memperbanyak nongkrong di warung kopi ketimbang belajar, sampai lulus Fakultas Psikologi tahun 2011.

Dia membuat kedai kopi karena dirinya kesulitan menemukan tempat nongkrong begitu pulang kampung ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, setelah empat tahun merantau ke Kota Kupang, NTT, pada 2015.

Bermodal pinjaman emas milik saudara dan keluarga, Saini membangun kedai sederhana dan menamainya Kandang Kopi karena seluruh bangunan berbahan bambu dan beratap rumbia–mirip kandang sapi.

Tentu selalu ada keberuntungan di balik cerita heroik. Pada 1980-an, ayah Saini yang sukses di perantauan membeli sekapling tanah di Kelurahan Mlajah, Bangkalan, yang sepi. Kini kawasan itu ramai dan menjadi Jalan RE Martadinata. Di lahan itulah Saini membangun kedai kopinya.

“Habis sekitar 75 juta. Mulai dari awal membangun sampai membeli isi kedai, lalu jualan kopi,” kata Saini, soal modal awal yang ia habiskan.

Awal Usaha Sepi itu Biasa

Setahun pertama Kandang Kopi sepi. Pembeli yang datang sebatas teman komunitas, teman sekolah, dan para tetangga. Itu pun, mereka datang karena diundang.

Ketika pembeli mulai ramai, Saini menyerahkan pengelolaan kedai ke adiknya, sebab ia harus kembali ke Kupang karena anaknya meninggal dunia. Ketika pengelolaan kedai dialihkan ke adiknya, pelanggan kandang kopi terus ramai dan stabil hingga Saini kembali.

Dengan pendapatan kotor rata-rata Rp 1 juta perhari, Kandang Kopi tak hanya balik modal di tahun kedua, tetapi juga mencatat keuntungan yang fantastik.

Saini merasa munculnya film Filosofi Kopi di tahun itu punya pengaruh besar dalam mengedukasi kalangan muda. Film garapan Sutradara Angga Dwimas Sasongko dianggap mampu mengubah kesan bahwa ngopi bukan hanya aktivitas orang tua.

“Di Madura, hanya orang tua yang nongkrong di warung kopi. Kalau yang muda nongkrongnya di alun-alun, enggak ngapa-ngapain,” ungkap dia.

Kini, di tahun keempatnya, Kandang Kopi telah stabil sebagai bisnis, branding pun sudah kuat. Maka, dia memutuskan membuka dua cabang baru pada 2017 dan 2018, masing-masing di Jalan HOS Cokroaminoto dan di sekitaran kampus Universitas Trunojoyo Madura.

Para pembeli langsung ramai. Adik dan sepupu Saini tak sulit lagi mengelola dua cabang itu. “Dulu, waktu buka Kandang kopi, hanya ada tiga kedai. Sekarang se-Bangkalan, ada lebih dari 30 kedai dan kafe. Alhamdulillah bisa bertahan,” ungkap Saini.

Baca Juga : Suatu Terobosan Kopi Instan Baru

Petualangan Ngopi di Kedai Legendaris

Saini memang seorang penikmat kopi tulen. Dia tak sembarangan menulis kopi dalam menu. Sebelum menentukan menu yang akan dijual, semua harus lolos seleksi rasa di lidahnya.

Untuk kopi misalnya, dia lebih dulu ngopi keliling Jawa Timur: dari Gresik Hingga Malang, dari Kediri sampai Tulungagung. Kopi Ijo misalnya ia temukan ketika ngopi di warung Cak Waris, salah satu tempat ngopi legendaris di Tulungagung.

Di Kediri ia jatuh cinta pada citarasa kopi Brotoseno. Namun, Kopi Unyil di Dinoyo Malang, paling cocok dengan lidahnya. Kopi Unyil ternyata kopi giras khas Gresik. Maka ia pun ngopi ke Gresik, mencari pembuatnya untuk diajak kerja sama.

“Kopi giras itu banyak jenisnya, tapi yang seperti kopi unyil, baru saya temukan setelah berpindah-pindah ngopi seharian,” kenang dia.

Setelah petualangan panjang itu, dia memutuskan 35 menu yang dijual, termasuk semua jenis kopi Nusantara. Seiring waktu terjadi seleksi alam. Beberapa menu dicoret karena jarang dipesan.

Dan lidah Saini memang peka, kopi giras menjadi menu favorit pelanggan dan belakangan melekat dengan Kandang Kopi.

“Dulu ada satu jenis kopi renteng yang saya jual, tapi saya putuskan tidak menjual lagi. Istilahnya, jangan ada kopi renteng di antara kita,” katanya sambil tertawa.

Kunci Bisnis Receh Harus Telaten

Menurut Saini, bisnis kopi termasuk bisnis recehan karena keuntungannya tak seberapa. Maka kuncinya adalah ketelatenan. Sepi atau ramai, jadwal buka harus Istiqomah sesuai jadwal.

Saini juga memanfaatkan media sosial untuk promosi dan menjangkau pembeli baru. Citarasa dan pelayanan juga harus dipertahankan agar pelanggan lama tidak lari.

“Pengopi di sini belum siap menikmati kopi murni tanpa gula ala kopi Nusantara, yang dihirup dulu sebelum diseruput itu. Mungkin karena harga mahal dan rasanya belum familiar,”.

Saini juga punya pesan penting bagi yang mau memulai usaha baru. “Jangan kosongan,” katanya.

Sebab, dia pernah mengalami, sejumlah pelanggan tiba-tiba menanyakan kenapa Kandang Kopi tutup. Padahal saat itu kedainya buka seperti biasa.

“Sedikit banyak, usaha itu harus dipagari, harus punya amalan, agar terhindar dari persaingan dunia gaib,” tutur alumnus S2 Universitas Surabaya ini.

Cinta Ini Membunuh Mu Melalui Kopi

Cinta Ini Membunuh Mu Melalui Kopi

Jeniskopidunia.web.id – Cinta ini membunuh mu mungkin itu judul yang cocok untuk judul artikel ini. Menemukan pasangan hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan Anda. Berbagai cara mendekati orang yang kita cintai digunakan.

Untuk itu, seorang pria asal Taiwan rela mencari cara yang berbeda demi menarik perhatian wanita yang ia suka. Pria yang tak disebutkan namanya ini jatuh cinta dengan seorang gadis cantik yang bekerja di minimarket di dekat rumahnya. Namun, dia tidak tahu bagaimana cara untuk mendekatinya. Akhirnya, dia mendapatkan ide untuk membuat gadis itu memperhatikannya. Dia memutuskan untuk membeli kopi darinya setiap hari. Untuk benar-benar memastikan gadis itu mengingatnya, dia meminta dibuatkan kopi yang istimewa, yakni dengan menambahkan lima sendok gula ke dalam kopinya. Gadis itu pun terkejut dengan permintaannya. Dia bahkan berkomentar, “Bukankah ini terlalu manis?” Namun, pria itu menjawabnya dengan gombalan, “Tidak semanis kamu.” Setelah mendengarkan gombalan tersebut, gadis itu pun tersenyum malu dan pergi.

Baca juga : Mana Yang Lebih Bagus Teh Atau Kopi

Kisahnya berakhir
Sejak hari itu dan seterusnya, dia rutin bahkan setiap hari membeli secangkir kopi dan gadis itu selalu ingat dengan permintaan gula yang sama. Namun, jangan pikir kalau usaha yang dilakukan pria ini akan berakhir bahagia. Pria ini sangat terkejut ketika mengetahui bahwa dirinya didiagnosis mengalami diabetes.

“Dua tahun kemudian, saya menderita diabetes,” kata pria itu.

Pengorbanan pria itu dalam melakukan pendekatan terhadap gadis yang ia suka mampu menarik perhatian warganet. Mendadak sontak kisah tersebut beredar di lini masa hingga menjadi sorotan warganet. Banyak dari mereka memuji usaha pria itu. Namun, adapula warganet yang menyayangkan keputusan pria itu yang malah merugikan dirinya sendiri.