Nikmatnya Kopi Koteka Khas Papua

Nikmatnya Kopi Koteka Khas Papua

jeniskopidunia.web.id Koteka adalah salah satu daun yang bisa digunakan oleh orang di Papua untuk memperbesar alat kelamin mereka.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Nikmatnya Kopi Koteka Khas Papua Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Nikmatnya Kopi Koteka Khas Papua

Nama Kopi dan Koteka sudah tak asing lagi di telinga kita. Yang satu berupa minuman, satu lagi pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki penduduk asli Papua. Kalau keduanya jadi satu dan terhidang dalam secangkir kopi, kira-kira seperti apa rasanya?

Di Alenia Papua Coffee and Kitchen Kemang, Jakarta Selatan, saya mencicipi secangkir V60 Arabica Papua, pada Kamis 3 Mei 2018. Tepat saat hujan turun, hawa dingin memeluk seketika membikin kopi yang hangat sampai cangkirnya berkeringat seolah meminta segera direguk.

Saya menyingkirkan dripper sebelum menyeruput kopi pekat tersebut. Namun, lebih dulu, ampas kopi di dalam dripper saya dekatkan ke penciuman. Hmmm, aroma asamnya kental mencekat di pangkal hidung. Para pesohor kopi akan menyebut kopi ini memiliki acidity atau tingkat keasaman yang tinggi. Memang beginilah karakter kopi Papua: tegas mulai dari aromanya.

Mencoba menyeruput perlahan menikmati setiap regukan. Kopi itu memenuhi seluruh bagian mulut dan seketika saya dapat mengecap dengan baik rasanya. Ada sensasi citrus yang tertinggal. “Asamnya dekat dengan rasa berry, jeruk, dan peach. Makin tinggi asamnya, penilaiannya makin baik,” tutur roaster Curious People Coffee, Hideo Gunawan. Dia menjadi salah satu informan yang akan bercerita tentang serba-serbi kopi Arabica Papua, khususnya yang berasal dari Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua.

Kopi khas Pegunungan Bintang ini diberi nama Kopi Koteka. Terdengar unik namanya karena kopi itu dikemas dalam wadah serupa koteka asli. Bupati Oksibil Costan Oktemka, yang turut mendampingi Hideo, mengatakan Kopi Koteka merupakan kopi asli produksi masyarakat Pegunungan Bintang. “Kami ingin mengenalkan pariwisata Oksibil melalui kopi,” ujar Bupati Costan.

Kopi Koteka berjenis Arabica tumbuh di ketinggian lebih dari 1.900 mdpl. Makin tinggi lahan penanaman, menurut Hideo, kian berkualitas pula rasanya. Inilah yang membuat Kopi Koteka menjadi spesial dibandingkan kopi-kopi Arabica Indonesia lainnya yang rata-rata ditanam di ketinggian 1.500 mdpl.

Baca Juga : Indonesia Ketua Dewan Kopi

Di ketinggian tersebut, hawa dingin dengan suhu rata-rata 18-23 derajat membuat biji kopi matang lebih sempurna. “Suhu ini ideal untuk penanaman kopi,” kata Hideo. Proses pematangan menjadi lebih lama karena faktor suhu. Akibatnya, zat gizi akan menumpuk dan rasa kopi cenderung lebih asam. Namun seperti inilah ciri khas kopi yang berkualitas.

Kopi-kopi Koteka ditanam di lima distrik di Oksibil. Masing-masing keluarga menanam dan memiliki setidaknya 1.000 pohon dengan hasil produksi berkisar 600 kilogram setahun. Kopi akan didistribusikan ke berbagai wilayah di Papua, seperti Jayapura, pasca-panen raya sepanjang tahun.

Meski baru didistribusikan sampai Jayapura, Kopi Koteka diklaim telah dikenal hingga mancanegara karena pernah dipromosikan ke Eropa dan Australia. Promosi tersebut gencar dilakukan mulai 2016. Untuk mempopulerkannya pun pemerintah menggelontorkan bantuan ke 20 koperasi di sana. Masing-masing koperasi menerima dana Rp 100 juta untuk pengembangan kopi. Bantuan ini dilakukan pemerintah guna mendukung masyarakat memaksimalkan produksi biji kopi, baik biji kering maupun basah.

Hingga bisa dinikmati di atas meja, Kopi Koteka berjenis Arabica di Oksibil memiliki sejarah panjang. Konon, kopi itu tak serta-merta tumbuh di sana. Menurut cerita Bupati Oksibil, kopi tersebut dibawa misionaris asal Belanda masuk ke Papua pada 1970. Dan sejak dipanen pertama kali hingga kini, kopi masih diproses dengan cara manual. “Mulai cara mereka menguliti hingga me-roasting, semua masih tenaga manusia,” kata Hideo, yang melakukan penelitian terhadap kopi tersebut pada Februari lalu.

Meski diproses dengan tangan manusia, penduduk setempat telah memiliki insting untuk memperlakukan biji-biji kopi dengan tepat. Misalnya memastikan biji benar-benar merah saat dipetik. Inilah yang membuat Kopi Koteka terjaga kualitasnya.

Related posts